Minggu, 26 Februari 2012

Proposal Skripsi Fakultas Dakwah


PSIKOSOSIAL  SUPPORT PROGRAM (PSP)
SEBAGAI SOLUSI PEMULIHAN PSIKOSOSIAL MASYARAKAT PASCA BENCANA

Proposal Penelitian
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Metodologi Penelitian Dakwah
Dosen Pengampu: Bpk. Ilyas Supena



Disusun oleh :

KHOERU KHOTIBUL UMAM

091111026


FAKULTAS DAKWAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2012

PSIKOSOSIAL  SUPPORT PROGRAM (PSP)
SEBAGAI SOLUSI PEMULIHAN PSIKOSOSIAL MASYARAKAT PASCA BENCANA

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
            PSP adalah kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan psikososial individu maupun masyarakat agar tetap berfungsi optimal pada saat mengalami krisis dalam situasi bencana maupun kecelakaan. PSP diberikan kepada Kelompok masyarakat target Program dukungan psikososial PMI seperti anak-anak, remaja, dewasa dan lansia, penyandang cacat, pekerja kemanusiaan.[1]
            Dari letak geografis dan perspektif geologi hampir sebagian besar daerah di Indonesia rentan untuk terjadinya bencana alam seperti gempa dan tsunami. Dalam manajemen bencana, aspek psikososial sebagai salah satu dampak dari bencana mulai mendapatkan perhatian dan penanganan. Pemerintah, masyarakat, dan institusi-institusi yang bekerja dalam manajemen bencana mulai menyadari perlunya menangani dampak psikososial yang dialami mereka yang terkena bencana. Layanan psikososial sebagai respon terhadap bencana perlu dilakukan dengan cara yang benar. Perlu adanya pemahaman yang sama tentang standar dan prinsip-prinsip dalam manajemen psikososial bencana.[2]
B.     RUMUSAN MASALAH
1)      Apa yang dimaksud Psikososial Support Program?
2)      Bagaimanakah Psikososial masyarakat pasca bencana?
3)      Bagaimanakah proses pemulihan Psikososial masyarakat pasca bencana dengan adanya Psikososial Support Program?
C.    TUJUAN PENELITIAN
Sesuai permasalahan di atas tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1)      Untuk mengetahui dan mendeskripsikan Psikososial Support Program
2)      Untuk mengetahui kondisi Psikososial masyarakat pasca bencana
3)      Untuk mengetahui keefektifan Psikososial Support Program sebagai solusi pemulihan masyarakat pasca bencana.
D.    MANFAAT PENELITIAN
Berangkat dari permasalahan dan tujuan penelitian tersebut di atas, kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.         Menambah satu wacana baru tentang PSP yang bisa digunakan oleh para da’i sebagai alternatif dalam berdakwah.
2.         Dapat digunakan sebagai motivator bagi para da’i dalam berdakwah, ditempat yang terkena bencana
E.     TINJAUAN PUSTAKA
            Psikososial Support Program adalah divisi yang melayani Rehabilitasi secara psikologis. Psikososial melayani Pendampingan Individu yang dikhususkan untuk penyandang cacat sebagai media konseling. Pendampingan terhadap keluarga juga sangat penting di dalam perkembangan mental penyandang cacat, oleh karena itu, selain pendampingan individu, Psikososial juga memberikan konseling terhadap keluaraga penyandag cacat, dengan Care Giver dan Care Support.
            Di dalam perkembangannya, Psikososial juga memiliki program Pengembangan Kepribadian,dimana penyandang cacat dibina selama 4 bulan untuk mendapatkan pelatihan secara psikologis dan ketrampilan secara sosial. Hal ini untuk membantu penyandang cacat untuk bisa lebih siap ketika terjun di dalam masyarakat. Di dalam program ini juga terdapat Family Training yang bertujuan untuk memperbaiki dan membina komunikasi anak dengan orang tuanya.
            Bencana gempa bumi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah ini telah mengakibatkan banyak korban jiwa. Selain itu juga telah mengakibatkan kerusakan ribuan ribu rumah, baik yang masih bisa dihuni maupun kerusakan yang menyebabkan rumah tidak bisa dihuni lagi. Selain korban jiwa dan rumah, berbagai sarana dan prasarana, sekolah, kantor pemerintah dan fasilitas umum lain mengalami kerusakan. Bencana gempa juga mengakibatkan dampak tekanan psikologis warga. Secara umum mereka berada dalam situasi beban sosial dan ekonomi yang berat. Saat itu ribuan korban gempa bumi terpaksa tinggal di tenda-tenda, dan tempat-tempat pengungsian, menumpang dirumah kerabat atau tetangga. Pemulihan Psikososial Pasca Gempa Bumi 27 Mei 2006 adalah pengembalian kondisi kejiwaan seperti perasaaan emosi, perbuatan dan perilaku seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain di lingkungan masyarakat setelah terjadi bencana gempa bumi menjadi hubungan yang dinamis antara perasaan psikologis dan pengalaman budaya yang pernah berlangsung sebelum terjadi gempa bumi dalam kehidupan bermasyarakat.
            Permasalahan dalam penulisan skripsi ini adalah bagaimana pelaksanaan dan manfaat program Psikososial Supprt Program (PSP)Cabang Bantul di Dusun Pelemadu. Jenis penelitian yang digunakan penelitian lapangan yang sifatnya deskriptif kualitatif. Obyek dari penelitian ini adalah pelaksanaan serta manfaat dari program PSP. Metode dalam pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi.
            Pelaksanaan Program Psikososial Support Program (PSP) Palang Merah Indonesia cabang Bantul di Dusun Pelemadu dapat berjalan dengan baik sesuai dengan tujuannya yaitu memulihkan kondisi psikososial masyarakat pasca gempa bumi 27 Mei 2006. masyarakat ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan program-program PSP PMI tersebut. Meskipun banyak hambatan dalam pelaksanaannya tidak membuat patah semangat tim PSP PMI dalam mengembalikan kondisi masyarakat korban gempa bumi di Dusun Pelemadu. Dari segi psikososialnya, masyarakat dusun Pelemadu dapat bangkit kembali melakukan berbagai macam aktivitas sosial yang sempat terhenti karena terjadinya gempa bumi. Perekonomian masyarakat juga dapat pulih kembali seperti sebelumnya.
            Manfaat program PSP PMI Cabang Bantul dapat dirasakan masyarakat di Dusun Pelemadu. Warga masyarakat merasakan dengan adanya tim PSP dapat membangkitkan semangat untuk membangun Desanya dan menghidupkan kembali kegiatan-kegiatan sosial setelah lama terhenti akibat gempa bumi. Masyarakat telah memiliki kesadaran untuk aktif kembali mengikuti kegiatan sosial masyarakat yang terdapat di Dusun Pelemadu. Hal tersebut tidak lepas dari peran PSP PMI Cabang Bantul dalam melakukan pendampingan Psikososial terhadap warga masyarakat di Dusun Pelemadu, Sriharjo, Imogiri, Bantul, Yogyakarta.
            Dari latar belakang masalah tersebut, penulis ingin mengkaji lebih dalam tentang keefektivan PSP sebagai solusi pemulihan psikososial masyarakat pasca bencana didaerah yang terkena bencana.
F.   KERANGKA TEORI
1)      Apa yang dimaksud Psikososial Support Program?
      Program Dukungan Psikososial (Psychosocial Support Prgramme/PSP) adalah kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan psikososial individu maupun masyarakat agar tetap berfungsi optimal pada saat mengalami krisis dalam situasi bencana maupun kecelakaan. PSP diberikan kepada Kelompok masyarakat target Program dukungan psikososial PMI seperti anak-anak, remaja, dewasa dan lansia, penyandang cacat, pekerja kemanusiaan.
Manfaat yang diinginkan dengan adanya PSP:
                        - Membantu individu untuk mengurangi beban emosinya.
- Mengembalikan fungsi sosial indvidu di dalam lingkungannya.
- Mengurangi risiko berkembangnya reaksi normal menjadi reaksi yang tidak   
   normal.
- Meningkatkan kemampuan individu di dalam pemecahan masalah-masalah  
   yang dihadapi pasca bencana.
- Membantu para pekerja kemanusiaan untuk mengatasi masalah psikologis
  yang muncul akibat dari situasi yang dihadapi.
2)      Bagaimanakah Psikososial masyarakat pasca bencana?  
a.      Pengertian Kebutuhan Psikososial:
         Manusia adalah makhluk biopsikososial yang unik dan menerapkan system terbuka serta saling berinteraksi. Manusia selaulu berusaha untuk mempertahankan keseimbangan hidupnya. Keseimbangan yang dipertahankan oleh setiap individu untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, keadaan ini disebut dengan sehat. Sedangkan seseorang dikatakan sakit apabila gagal dalam mempertahankan keseimbangan diri dan lingkungannya. Sebagai makhluk social, untuk mencapai kepuasana dalam kehidupan, mereka harus membina hubungan interpersonal positif .
b.    Status Emosi
Setiap individu mempunyai kebutuhan emosi dasar, termasuk kebutuhan akan cinta, kepercayaan, otonomi, identitas, harga diri, penghargaan dan rasa aman. Schultz (1966) Merangkum kebutuhan tersebut sebagai kebutuhan interpersonal untuk inklusi, control dan afeksi. Bila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, akibatnya dapt berupa perasaan atau prilaku yang tidak diharapkan, seperti ansietas, kemarahan, kesepian dan rasa tidak pasti.Kebutuhan interpersonal akan inklusi, control dan afeksi kadang saling tumpang tindih dan berkesinambungan.
Kebutuhan akan inklusi :Merupakan kebutuhan untuk menetapkan dan memelihara hubungan yang memuaskan dengan orang. Dalam lingkungan perawatan kesehatan, kebutuhan inklusi dapat dipenuhi dengan memberi informasi dan menjawab semua pertanyaan, menjelaskan tanggung jawab perawat dalm memberi perawatan dan mengenali kebutuhan serta kesukaan pasien.
Kebutuhan akan kontrol : Berhubungan dengan kebutuhan untuk menentukan dan memelihara hubungan yang memuaskan dengan orang lain dengan memperhatikan kekuasaan, pembuatan keputusan dan otoritas.
Contoh: Saat orang melepaskan tanggung jawab pribadinya dan menjadi pasien yang sangat terikat dan tidak berdaya yang selalu meminta petunjuk dari semua orang mengenai apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya. Dibalik prilaku itu tersembunyi ansietas, bermusuhan dan kurang percaya terhadap orang lain  atau diri sendiri. Intervensi keperawatan yang membantu pasien menerima tanggung jawab untum membuat keputusan mengenai perawatan pasien yang menunjang pemulihan control.
Kebutuhan Afeksi :Seseorang membangun hubungan saling memberi dan saling menerima  berdasarkan saling menyukai. Afeksi diungkapkan dengan kata-kata cinta, suka, akrab secara emosional, pribadi, sahabat, dan intimasi.
Rentang Respon Emosional :
a.    Kepekaan emosiaonal
adalah Respons emosional termasuk dipengaruhi oleh dan berperan aktif dalam dunia internal dan eksternal sesorang. Tersirat bahwa orang tersebut terbuka dan sadar akan perasaannya sendiri.
b.    Reaksi berduka takterkomplikasi
Terjadi sebagai respons terhadap kehilangan dan tersirat bahwa seseorang sedang menghadapi suatu kehilngan yang nyata serta terbenam dalam proses berdukanya.
c.    Supresi emosi
Mungkin tampak sebagai penyangkalan (denial) terhadap perasaan sendiri, pelepasan dari keterikatandengan emosi atau penalaran terhadap semua aspek dari dunia afektif seseorang.
d.   Penundaan reaksi berkabung
Ketidakadaan yang persisten respons emosional terhadap kehilangan . ini dapat terjadi pada awal proses berkabung dan menjadi nyata pada kemunduran proses, mulai terjadi atau keduanya. Penundaan dan penolakan proses berduka kadang terjadi bertahun-tahun.
e.    Depresi atau melankolia
Suatu kesedihan atau perasaan berduka berkepanjangan. Dapat digunakan untuk menunjukkan berbagai fenomena, tanda, gejala, sindrom, keadaan emosional, reaksi, penyakit atau klinik.


f.    Mania
Ditandai dengan elevasi alam perasaan berkepanjangan dan mudah tersinggung.
3)      Bagaimanakah proses pemulihan Psikososial masyarakat pasca bencana dengan adanya Psikososial Support Program?
      Palang Merah Amerika bermitra dengan Palang Merah Indonesia melalui Program Pemulihan Tsunami, hari ini telah menyelesaikan Program Dukungan Psikososial (Psychosocial Support Program – PSP) yang telah berlangsung selama 4,5 tahun untuk membantu masyarakat Aceh pasca bencana tsunami 2004. Melalui intervensi berbasis masyarakat dan sekolah, PSP telah melaksanakan aktifitasnya di 183 sekolah dan 177 desa yang tersebar di Kotamadya Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Aceh Jaya.
      Program ini bertujuan untuk membantu mengembalikan kesejahteraan psikologis maupun sosial masyarakat Aceh pasca tsunami melalui penguatan kembali struktur sosial di masyarakat, ikatan emosional antara individu, keluarga dan kelompok, mengembalikan rasa kedekatan dengan tempat tinggal yang dulunya telah hancur, dan membantu meningkatkan faktor-faktor pendukung lainnya untuk mengatasi dan memulihkan diri dari trauma setelah mengalami bencana.
      Kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan baik di masyarakat maupun sekolah antara lain adalah kegiatan rasa akan tempat – budaya dan ekologi, pendidikan informal seperti pengajian, belajar menulis, menggambar dan membaca bagi anak-anak, kegiatan keterampilan, pengembangan rencana tanggap krisis, dan berbagai kegiatan extra kurikuler lainnya di sekolah.
      Dalam meningkatkan kapasitas orang-orang yang terlibat dalam menjalankan kegiatan PSP di masyarakat, Palang Merah Amerika mengadakan kegiatan pelatihan bagi para staff dan relawan PMI serta pelatihan bagi para fasilitator dan komite yang terlibat di masyarakat dan sekolah. Selain itu, PSP memberikan beasiswa kepada 20 staf dan relawan PMI yang berasal dari beberapa provinsi di Indonesia untuk mengikuti Program Master Psikologi Trauma dan Bencana di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia selama 2 tahun (sejak Februari 2009 sampai Januari 2011). Tiga dari 20 mahasiswa program ini merupakan perwakilan dari Provinsi Aceh yang juga terlibat langsung dalam kegiatan PSP. Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka diharapkan menjadi kader dan relawan yang memiliki keahlian dan terlatih untuk memberikan bantuan psikososial apabila terjadi bencana lain dikemudian hari.
      Tom Alcedo, Kepala Perwakilan Palang Merah Amerika mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah terlibat dan mendukung keberlangsungan program Palang Merah Amerika khususnya PSP di Aceh. “Atas nama masyarakat Amerika dan Palang Merah Amerika, saya ingin berterima kasih atas dukungan yang telah diberikan berbagai pihak, baik dari PMI, masyarakat dan pemerintah demi tercapainya tujuan dari program ini, diharapkan masyarakat Aceh dapat membangun dan menata kehidupannya ke arah yang semakin baik di masa yang akan datang ”, ungkapnya.[3]




G.    METODOLOGI PENELITIAN
1.       Sumber Data
Yang dimaksud sumber data dalam penelitian ini adalah subyek dari mana data dapat diperoleh. Sumber data yang diperoleh penulis adalah sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer berasal dari hasil interview secara langsung dengan orang-orang yang terkena bencana yaitu anak-anak, remaja-remaja dan orang dewasa.
Dalam penelitian ini, populasi yang diambil adalah seluruh masyarakat yang terkena bencana. Sedangkan sampel yang diambil sebanyak 100 orang, terdiri dari keluarga korban dan para relawan. Pengambilan sampel dengan teknik purposive random sampling, di mana pengambilan sampel ini dilakukan berdasarkan adanya tujuan tertentu. Keseratus orang responden tersebut sudah mewakili sampel yang diambil karena memiliki karakteristik yang dibutuhkan peneliti yaitu benar-benar terlibat dalam proses Psikologi Support Program
1.             Metode Pengumpulan Data
a.              Interveiw / Wawancara adalah penulis mendapatkan informasi dengan cara bertanya langsung kepada responden. Hal ini digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan seseorang. Ada dua macam pedoman wawancara yaitu, wawancara tidak terstruktur yaitu pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan dan wawancara terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang disusun secara terperinci sehingga menyerupai check list. Wawancara yang digunakan adalah wawancara tidak terstruktur yaitu wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan. Pada prosesnya untuk mencapai keakuratan, peneliti menggunakan alat bantu berupa tape recorder, kemudian mentransfernya dalam transkrip tertulis.
b.             Dokumentasi adalah metode pengumpulan data diperoleh dengan bersumber pada peninggalan tertulis mengenai kegiatan atau kejadian yang dari segi waktu relatif belum terlalu lama. Dalam melaksanakan metode dokumentasi peneliti menyelidiki benda-benda tertulis, seperti buku-buku, majalah, dokumen, foto, dan lain sebagainya.
2.             Metode Analisis Data
Penelitian yang dilakukan adalah penelitian historis (historical research) yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk merekonstruksi kondisi masa lampau secara obyektif, sistematis dan akurat. Setelah data-data dikumpulkan, dievaluasi, dianalisis dan disintesiskan kemudian dirumuskan kesimpulan.
Analisis data yang dilakukan dengan metode tri angulasi, yaitu aplikasi studi yang menggunakan multi metode untuk menelaah fenomena yang sama. Fenomena yang biasanya kompleks itu membutuhkan studi mendalam dari beragam perpskeitf atas realitas. Dengan tri angulasi merupakan cara lain untuk mempertinggi peluang mendapat temuan yang kredibel. Tri angulasi yang digunakan di sini adalah tri angulasi sumber (sources tri angulations), di mana memungkinkan peneliti untuk melakukan pengecekan ulang serta melengkapi informasi. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat berbagai bentuk rekaman terhadap tipe sumber yang sama.
3.             Tahap Pelaksanaan
Langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan
langkah-langkah penelitian historis, yaitu:
a.              Mengidentifikasi dan merumuskan masalah.
b.             Mendefinisikan masalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti apakah pendekatan ini paling cocok untuk masalah yang menjadi fokus, apakah peneliti dapat menemukan data yang diperlukan dalam penelitian, apakah penelitian akan menghasilkan kesimpulan yang berguna dan sebagainya.
c.              Merumuskan tujuan penelitian.
d.             Mengumpulkan data dengan membedakan data primer dan data sekunder.
e.              Evaluasi atas data yang diperoleh dengan mengajukan kritik internal dan eksternal.
f.              Menuangkan hasil penelitian dalam bentuk laporan.[4]












DAFTAR PUSTAKA

Sudarwan Danim, Menjadi Peneliti Kualitatif, Pustaka Setia, Bandung, 2002.
F. J. Monks. Psikologi Perkembangan.
http://www.hinamagazine.com/index.php/2010/04/27/program-dukungan-psikososial-palang-merah-indonesia-dan-palang-merah-amerika-berakhir-di-aceh/
http://pmi.or.id/ina/program/?act=detail&id_sub=61
http://salimah.or.id/?p=890


[1] http://pmi.or.id/ina/program/?act=detail&id_sub=61
[2] http://salimah.or.id/?p=890
[3] http://www.hinamagazine.com/index.php/2010/04/27/program-dukungan-psikososial-palang-merah-indonesia-dan-palang-merah-amerika-berakhir-di-aceh/
[4] Sudarwan Danim, Menjadi Peneliti Kualitatif, Pustaka Setia, Bandung, 2002.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar